Review
Tengah Hari di Yenisehir

Tengah Hari di Yenisehir

Kisah yang bernapaskan refleksi dari realita kehidupan memang cenderung menyenangkan untuk dinikmati, karena setiap bagian di dalamnya tidak jauh dari pengalaman sehari-hari. Mengamini gagasan Aristoteles (1961) dalam Poetics, bahwa karya sastra memang secara sengaja dicipta dengan cara mengimitasi objek dalam dunia nyata, entah dalam wujud peristiwa maupun tindakan-tindakan manusia. Secara harfiah, dunia nyata adalah setiap hal yang benar-benar terjadi, sedangkan karya sastra hanyalah sebatas cerita yang berlabel fiksi. Padahal gegara label fiksi inilah yang membuat sastra mampu mengungkapkan hal yang sengaja disembunyikan di dunia nyata. Tak berlebihan jika Seno Gumira Ajidarma mengungkapkan bahwa jika jurnalisme berbicara dengan fakta, maka sastra berbicara dengan kebenaran. Oleh sebab itu, tak sedikit karya-karya sastra yang mengungkapkan ‘rahasia’ kehidupan manusia lewat bingkai cerita fiksinya, mulai dari karya sastra klasik hingga karya sastra kontemporer.

Banyak sastra-sastra klasik modern yang menarik di seluruh belahan dunia, di antaranya adalah novel Tengah Hari di Yenisehir karya Sevgi Soysal. Tak hanya capaian prestasi sebagai peraih penghargaan bergengsi Orhan Kemal Award di tahun kali pertama terbit (1974) yang membuatnya menarik, namun juga karena gaya berkisahnya yang terkesan unik. Karya sastra yang dikategorikan sebagai novel ini nyatanya juga dapat dinikmati seakan-akan seperti kumpulan cerpen, karena setiap bab menyajikan kisah dari perspektif satu tokoh tertentu. Satu hal yang membuatnya tetap lebih layak disebut sebagai novel adalah keterikatan hubungan antartokoh dari setiap bab. Di awal mula pembacaan memang terkesan kurang berhubungan antarbabnya, namun keterjalinan hubungan tiap tokoh akan semakin jelas ketika pembacaan benar-benar dituntaskan hingga ujung halaman.

Keunggulan yang lain dari novel ini adalah penyajian bahasa yang mudah dipahami, mengingat novel ini adalah novel terjemahan dari novel berbahasa Turki dengan judul asli Yenisehir’ de Bir Ogle Vakti. Harus diakui bahwa membaca novel terjemahan dapat dikategorikan ke dalam membaca buku dengan kategori ‘berat’. Tak jarang perlu dilakukan pembacaan berulang untuk mendapatkan maksud yang paling tepat dari sebuah paragraf maupun sebaris kalimat. Namun pada edisi bahasa Indonesia ini, Zamira Elianna Loebis mampu menghilangkan kesan ‘naskah terjemahan’ dalam novel ini. Di antara naskah terjemahan yang saya baca, Tengah Hari di Yenisehir menjadi satu di antara naskah terjemahan yang tergolong ‘renyah’ dan ‘gurih’, karena saya tak perlu membolak-balik halaman berkali-kali untuk menangkap suatu arti.

Bukti ‘kerenyahan’ naskah terjemahan ini dapat dilihat pada penggunaan metafora penulis yang biasanya kesulitan ditemui padanan yang pas dalam kalimat penerjemah, namun Zamira Elianna Loebis dalam novel ini mampu menyajikan terjemahan metafora yang menurut hemat saya dapat dengan mudah ditangkap maksudnya, seperti dalam kutipan berikut ini,

Para calon pengantin yang merasa bahagia tak terkira dengan mendekorasi sarang yang akan mereka bangun bersama, para burung terpenjara yang menghabiskan banyak uang dan tenaga untuk kandang mereka, dan mereka yang mengeluh, padahal juga terperangkap dalam kebiasaan berbelanja (halaman 14)

Ungkapan metaforis [sarang], [burung terpenjara], dan [kandang] dirangkai dalam kalimat yang ritmis dengan akhiran bunyi /a/, sehingga ada kesan indah sekaligus pemahaman yang mudah dalam susunan kalimatnya. Sarang, burung, dan kandang sendiri memang tiga unsur yang tak terpisahkan untuk membuat analogi dari sepasang calon pengantin yang ingin memperindah rumah mereka dengan perabotan-perabotan mewah yang ujung-ujungnya hanya akan menjadi penjara karena mengeluh atas pengeluaran yang sia-sia seperti seekor burung yang sedang terpenjara.

Sebuah Ironi

Secara garis besar, novel Tengah Hari di Yenisehir menceritakan kegelisahan Sevgi Soysal terhadap ironi kehidupan masyarakat Turki di era 1960-an⸻yang agaknya relevan dengan kondisi masyarakat di negara manapun⸻yang diekspresikan melalui sikap, dialog, dan narasi para tokoh di dalam cerita. Kegelisahan-kegelisahan tersebut menyangkut berbagai aspek kehidupan, mulai dari masalah etika; hubungan dalam keluarga; sistem hukum; hingga masalah pendidikan. Melalui Tengah Hari di Yenisehir, seolah Sevgi Soysal ingin berteriak lantang: percayalah, Negara ini sedang tidak baik-baik saja.

Satu di antara kegelisahan Sevgi Soysal adalah ironi tentang penggelapan uang. Lewat dialog antara Gungor dengan tunangannya, penggelapan uang dipahami sebagai tindakan ‘paling benar’ yang dapat dilakukan oleh seorang pegawai negeri. Penggelapan uang yang seharusnya dimaknai sebagai tindakan mencuri, secara ironis justru dimaknai sebagai tindakan yang ‘paling terpuji’ sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

“Apa maksudmu meremehkan diri sendiri? Penggelapan adalah tindakan paling benar yang dapat dilakukan oleh seorang pegawai negeri. Bukankah negara terus-menerus menggelapkan uang rakyat? Seseorang merasakan dan melihat ini, kemudian mengambil kembali bagian sangat kecil dari uang yang telah dirampas oleh negara dari orang banyak, uang yang sebenarnya menjadi haknya, bahkan jika dia memang tak berhak atas uang itu, yah, pada dasarnya, dia hanya mengambil kembali uang yang sebenarnya menjadi hak sekelompok orang lain.” (halaman 102)

Karena negara dianggap tak bosan-bosan menggelapkan uang rakyat, maka rakyat (Gungor) pun secara ironis memaknai penggelapan sebagai hal yang lumrah⸻malah sangat mulia. Argumentasinya sederhana, menggelapkan uang negara sama halnya mengambil kembali uang seharusnya menjadi haknya. Tak ada yang salah dalam hal ini menurut Gungor. Pemahaman seperti ini mengingatkan saya pada tokoh Balram dalam film White Tiger yang secara ironis memaknai mencuri uang kaum elite sebagai upaya untuk membantu mereka dalam mengembalikan hak rakyat yang telah diambil. (Ai)

Tags :